DATA SISWA YANG RESPON

Senin, 18 Januari 2021

XI IPS3

Menyajikan Proposal Hasil Diskusi
Kita  sudah  mengetahui  bahwa  struktur  proposal  terdiri  atas  bagianbagian berikut.
1.  Latar Belakang
2.  Masalah dan Tujuan
a. Masalah
b. Tujuan
3.  Ruang Lingkup Kegiatan
a. Objek
b. Jenis-jenis kegiatan
4.  Kerangka Teoretis dan Hipotesis
a. Kerangka teoretis
b. Hipotesis
5.  Metode
6.  Pelaksana Kegiatan
a. Penanggung jawab
b. Susunan personalia
7.  Fasilitas yang Tersedia
a. Sarana
b. Peralatan
8.  Keuntungan dan Kerugian
a. Keuntungan-keuntungan
b. Kemungkinan kerugian
9.  Lama Waktu dan Tempat Pelaksanaan
a. Waktu
b. Tempat
10. Anggaran Biaya
11. Dafar Pustaka
12. Lampiran-Lampiran
Sementara  itu,  kebahasaan  yang  menandai  proposal  adalah banyaknya menggunakan fitur-fitur berikut.
1.  Pernyataan argumentatif
2.  Pernyataan persuasif
3.  Kata-kata teknis
4.  Kata kerja tindakan

5.  Kata pendefnisian
6.  Kata perincian
7.  Kata keakanan
Struktur  dan  kaidah  itulah  yang  menjadi  pedoman  kita  ketika mendiskusikan kelengkapan dan ketepatan suatu proposal. Selain itu, diskusi  tentang  suatu  teks  proposal  ataupun  teks-teks  lainnya  dapat pula  berkenaan  dengan  kaidah-kaidah  kebahasaan  lainnya,  seperti keefektifan kalimat, ketepatan pemilihan kata, serta kebakuan ejaan dan tanda bacanya.

 

Kegiatan 2
Menganalisis Kaidah Kebahasaan Teks Proposal

Perhatikan kembali cuplikan berikut.
 

        Kurikulum  baru  yang  tidak  beberapa  lama  lagi  diberlakukan, merupakan momentum terbaik dalam memperbaiki kondisi yang tidak menggembirakan  itu.  Apalagi  dengan  pendekatan  yang  digunakan kurikulum  ini  yang  sangat  kondusif  bagi  dilakukannya  upaya-upaya tersebut.  Kurikulum  baru  tersebut  memberdayakan  peran  guru  dalam pengembangannya, terutama dalam pemilihan materi dan penggunaan metode yang sesuai dengan kompetensi para siswanya. Dengan demikian, terangakatnya  prestasi  dan  keterampilan  membaca  dan  menulis
siswa,  kembali  kepada  peran  para  pengajar  dalam  pengajarannya. Untuk  itu,  sebuah  upaya  pembekalan  terhadap  para  pengajar  tentang pengembangan kurikulum dan materi pengajaran membaca dan menulis sangat mendesak untuk dilakukan.

 

 

         Beberapa kaidah kebahasaan yang menandai sebuah proposal tampak di dalamnya. Di dalam tersebut terdapat pernyataan-pernyataan yang bersifat argumentatif. Argumen yang dimaksud, antara lain, tentang pemberlakuan kurikulum baru sebagai momentum terbaik untuk memperbaiki kondisi
(pembelajaran).  Kurikulum  baru  mendorong  pemberdayaan  peran  guru (pengajar) dalam mengembangkan kompetensi siswa. Argumen-argumen tersebut  akan  lebih  meyakinkan  apabila  disertai  dengan  alasan.  Suatu alasan  sering  kali  menggunakan  konjungsi  penyebaban,  seperti sebab, karena, oleh karena itu.
        Selain  pernyataan-pernyataan  argumentatif,  di  dalamnya  terdapat pernyataan-pernyataan yang bersifat persuasif. Hal ini dimaksudkan untuk menggugah  penerima  proposal  untuk  menerima  ajuan  itu.  Misalnya,

 

perhatikanlah  kalimat  terakhir  dalam  cuplikan  itu.  Kalimat  “Untuk  itu, sebuah upaya pembekalan terhadap para pengajar tentang pengembangan kurikulum dan materi pengajaran membaca dan menulis sangat mendesak untuk  dilakukan”  merupakan  kalimat  persuasif  yang  menyatakan
pentingnya kegiatan yang diajukannya itu sehingga diharapkan pihak yang ditujunya bisa menerimanya. 

Fitur-ftur kebahasaan lainnya yang menjadi penanda proposal adalah sebagai berikut.


1.  Menggunakan banyak istilah ilmiah, baik berkenaan dengan kegiatan itu  sendiri  ataupun  tentang  istilah-istilah  berkaitan  dengan  bidang keilmuannya.
 

Istilah Kegiatan (Penelitian) Istilah Keilmuan (Pendidikan)
abstrak
analisis data
hipotesis
instrumen
latar belakang
metode penelitian
pengolahan data
penelitian lapangan
pengumpulan data
populasi
sampel
teknik penelitian
afektif
buku pelajaran
kompetensi
kurikulum
materi pengajaran
media belajar
minat baca
pembelajaran
peserta didik
psikologis
sekolah

2.  Menggunakan  banyak  kata  kerja  tindakan  yang  menyatakan langkah-langkah  kegiatan  (metode  penelitian).  Kata-kata  yang dimaksud,  misalnya, berlatih,  membaca,  mengisi,  mencampurkan, mendokumentasikan, mengamati, melakukan.
 

3.  Menggunakan kata-kata yang menyatakan pendefnisan, yang ditandai oleh penggunaan kata merupakan, adalah, yaitu, yakni.
 

4.  Menggunakan kata-kata yang bermakna perincian, seperti selain itu, petama, kedua, ketiga.
 

5.  Menggunakan  kata-kata  yang  bersifat  “keakanan”,  seperti akan, diharapkan, direncakan. Hal itu sesuai dengan sifat proposal itu sendiri sebagai suatu usulan, rencana, atau rancangan program kegiatan.
 

6.  Menggunakan kata-kata bermakna lugas (denotatif). Hal ini penting guna  menghindari  kesalahan  pemahaman  antara  pihak  pengusul dengan pihak tertuju/penerima proposal.

 XI IPS3

https://forms.gle/nBJ7srMgmhuqfb9L7

 

Sabtu, 16 Januari 2021

XI IPS2

 

 Bab V

Mempersiapkan 
Proposal


          Pernahkah kamu melaksanakan suatu kegiatan di sekolah? Untuk melancarkan kegiatan tersebut, kamu harus terlebih dahulu membuat sebuah proposal. Proposal adalah rencana kegiatan yang dituliskan dalam bentuk rancangan kerja yang akan dilaksanakan. Rencana tersebut harus dituliskan agar pihak yang berkepentingan dapat memahami dengan baik, memberikan izin, dan menyumbangkan dana supaya kegiatan tersebut bisa terlaksana. Untuk membekali kemampuanmu, pada bab ini kamu akan belajar: 

1. memahami informasi berdasarkan bagian-bagian penting proposal; 

2. menganalisis isi dan kaidah kebahasaan teks proposal;

3. mendiskusikan isi proposal; dan 

4. menyusun proposal.Untuk membantumu dalam mempelajari dan mengembangkan kompetensi dalam berbahasa, pelajari peta konsep di bawah ini dengan saksama

 

Mengidentifikasi Informasi Penting dalam Proposal Kegiatan atau Penelitian

Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu: 

1. mengidentifikasi bagian-bagian penting proposal; 

2. menemukan informasi yang dibaca untuk dikembangkan menjadi proposal.

       Pernahkah kamu membuat proposal? Biasanya, proposal digunakan sebagai pengajuan, permohonan, atau penawaran. Dengan adanya proposal, kegiatan yang kita rencanakan bisa terlaksana dengan baik sebab kita akan mendapat beberapa keuntungan, misalnya mendapat izin pelaksanaan kegiatan dan mendapat bantuan dana.

Kegiatan 1

     Mengidentifikasi Bagian-bagian Penting ProposalPada pembahasan ini, kamu akan mempelajari bagian-bagian penting dalam proposal. Untuk menunjang pemahamanmu, 

perhatikanlah contoh proposal berikut ini!  

............................................................................

A. Judul proposal : Kadar Keilmuan Tulisan Siswa SMAN 3 Tasikmalayapada Mading Sekolah 

B. Pendahuluan 

1. Latar Belakang Masalah

     Bahasa yang digunakan dalam tulisan ilmiah memiliki karakteristik dan ragam ilmiah. Oleh karena itu, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa tersendiri, yaitu ragam tulis ilmiah. Bahasa tulis ilmiah merupakan suatu laras (register) dari ragam bahasa resmi baku yang harus disusun secara jelas, teratur, dan tepat makna. Ragam bahasa ilmiah yang digunakan dalam tulisan ilmiah – dalam hal ini mading ilmiah – harus memiliki ketentuan tertentu agar mampu mengomunikasikan pikiran, gagasan, dan pengertian secara lengkap, ringkas, dan tepat makna. 

     Salah satu ciri ragam bahasa tulis ilmiah adalah lebih mengutamakan penggunaan kalimat pasif daripada aktif. Pengutamaan bentuk kalimat pasif dalam tulisan ilmiah karena tulisan ilmiah lebih cenderung bersifat impersonal, pengungkapan suatu peristiwa lebih ditonjolkan daripada pelakunya. Oleh karena itu, bentuk penulisan konstruksi kalimat pasif dalam tulisan ilmiah sering dilakukan penulisnya. 

      Secara umum, suatu tulisan ilmiah dapat diartikan sebagai suatu hasil karya yang dipandang memiliki kadar keilmiahan tertentu serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah pula. Karya ilmiah dapat dikomunikasikan secara tertulis dalam bentuk tulisan ilmiah. Dengan demikian, tulisan ilmiah adalah semua bentuk tulisan yang memiliki kadar ilmiah tertentu sesuai dengan bidang keilmuannya. 

      Berbeda dengan karya sastra atau karya seni, karya ilmiah mempunyai bentuk serta sifat yang formal karena isinya harus mengikuti persyaratan-persyaratan tertentu sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Tujuan penulisan karya ilmiah adalah menyampaikan seperangkat informasi, data, keterangan, dan pikiran secara tegas, ringkas, dan jelas. Kendatipun demikian, melalui kreativitas dan daya nalar penulisnya, karya ilmiah dapat disusun sedemikian rupa agar menarik perhatian pembaca tanpa melupakan nilai-nilai ilmiahnya. 

      Suatu tulisan ilmiah pada hakikatnya merupakan hasil proses berpikir ilmiah. Pola berpikir ilmiah yang digunakan dalam mengungkapkan suatu tulisan ilmiah adalah pola berpikir reflektif, yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan mengadakan refleksi secara logis dan sistematis di antara kebenaran ilmiah dan kenyataan empirik dalam mencari jawaban terhadap suatu masalah. Cara berpikir induktif dan deduktif secara bersama-sama mendasari proses berpikir reflektif. 

      Pola berpikir ilmiah sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang dapat dijamin kebenarannya secara ilmiah. Ada tiga aspek yang diperlukan dalam menjuruskan ke dalam berpikir ilmiah tersebut. Pertama, perlu penjelasan ilmiah – dalam menghasilkan karya tulis ilmiah diperlukan adanya kemampuan untuk menjelaskan pikiran sedemikian rupa sehingga dapat dipahami secara objektif. Penjelasan ilmiah dilakukan dengan menggunakan bahasa teknis ilmiah baik secara verbal maupun nonverbal. 

      Kedua, pengertian operasional – dalam kegiatan ilmiah setiap pengertian yang terkandung di dalamnya hendaknya bersifat operasional agar terjadi kesamaan persepsi, visi, dan penafsiran. Untuk itu, perlu dibuat rumusan yang jelas dan objektif. Jika diperlukan, beberapa pengertian dapat dibuatkan rumusan pengertiannya secara eksplisit. Membuat pengertian operasional dapat dilakukan dengan membuat definisi atau sinonim dari hal-hal yang akan dijelaskan. Di samping itu, pengertian operasional dapat disusun dengan membuat deskripsi secara jelas baik segi kausal, dinamis, maupun ciri-ciri yang dapat diidentifikasi.  

      Ketiga, berpikir kuantitatif artinya untuk lebih menjamin objektivitas penyampaian pikiran atau keterangan. Hal ini berarti perlunya data kuantitatif sebagai pendukung terhadap segala pikiran yang akan dikemukakan. Tulisan ilmiah dikemukakan berdasarkan pemikiran, simpulan, serta pendapat/pendirian penulis yang dirumuskan setelah mengumpulkan dan mengolah berbagai informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, baik teroretik maupun empirik. Tulisan ilmiah senantiasa bertolak dari kebenaran ilmiah dalam bidang ilmu pengetahun, teknologi, dan seni yang berkaitan dengan permasalahan yang disajikan. Titik tolak ini merupakan sumber kerangka berpikir (paradigma) dalam mengumpulkan informasi-informasi secara empirik.  

     Sehubungan dengan hal itu, untuk mengetahui kadar keilmuan tulisan siswa maka perlu dilakukan kajian terhadap karya ilmiah yang dibuat siswa SMA Negeri 3 Tasikmlaya. Untuk itu, kajian atau penelitian dengan judul “Kadar Keilmuan Tulisan Siswa SMAN 3 Tasikmalaya pada Majalah Dinding (Mading) Sekolah” penting untuk dilakukan. Rencana kegiatan ini dituangkan dalam proposal penelitian ini. 

2. Perumusan Masalah 

       Penelitian terhadap tulisan ilmiah para siswa SMAN 3 Tasikmalaya yang dipublikasikan pada majalah dinding (mading) sekolah dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan komprehensif tentang kadar keilmiahan tulisan yang berkaitan dengan aspek kebahasaan dalam pengungkapan konsep-konsep keilmuan dan fakta ilmiah. Penilaian yang dilakukan terhadap tulisan ilmiah dalam mading itu meliputi penilaian unsur kebahasaan dan unsur nonkebahasaan. Unsur kebahasaan terdiri atas penggunaan kosakata dan istilah, pengembangan bahasa, dan aspek mekanik yang terdapat dalam tulisan, sedangkan unsur nonkebahasaan terdiri atas unsur isi dan organisasi tulisan.

     Penilaian terhadap unsur kebahasaan dimaksudkan untuk mengetahui kecenderungan penggunaan unsur teknis ilmiah kebahasaan yang terdapat dalam tulisan/mading yang dipublikasikan. Adapun penilaian terhadap unsur nonkebahasaan dimaksudkan untuk mengetahui kelengkapan informasi ilmiah dan pengembangan alur berpikir yang disampaikan oleh penulis.

      Berdasarkan uraian di atas, masalah yang akan dijadikan fokus penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 

a. Bagaimanakah kadar keilmiahan isi tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam mading sekolahnya

b. Bagaimanakah kadar keilmiahan tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam mading sekolahnya? 

c. Bagaimanakah kadar keilmiahan kosakata dan istilah yang digunakan dalam tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam Mading sekolahnya? d. Bagaimanakah kadar keilmiahan pengembangan bahasa yang digunakan dalam tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam mading sekolahnya?  

e. Bagaimanakah kadar keilmiahan aspek mekanik yang digunakan dalam tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya yang disajikan dalam mading sekolahnya? 

3. Tujuan Penelitian 

Untuk memperjelas arah penelitian ini, dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut. 

 a. Untuk mengetahui kadar keilmiahan isi tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam mading sekolahnya.

 b. Untuk mengetahui kadar keilmiahan organisasi tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam mading sekolahnya. 

c. Untuk mengetahui kadar keilmiahan kosakata dan istilah tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam mading sekolahnya. 

d. Untuk mengetahui kadar keilmiahan pengembangan bahasa yang digunakan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam mading sekolahnya. 

e. Untuk mengetahui kadar keilmiahan aspek mekanik yang digunakan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam mading sekolahnya. 

4. Kontribusi Penelitian

      Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para siswa SMAN 3 Tasikmalaya dalam menambah pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan tulisan yang berkadar ilmiah. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat secara praktis bagi guru dalam menulis mading yang berkadar ilmiah dilihat dari aspek keilmiahan isi tulisan, organisasi, kosakata dan istilah, pengembangan bahasa, dan mekanik yang terdapat dalam tulisan mading. Hasil pendeskripsian tulisan berkadar ilmiah ini nantinya dapat dijadikan sebagai pedoman atau panduan bagi guru dalam memberikan pembelajaran menulis yang berkadar ilmiah. 

5. Definisi Operasional 

    Tulisan berkadar ilmiah adalah karangan tertulis yang menyajikan fakta umum dengan menggunakan metode ilmiah dan menggunakan aspek bahasa tulis ilmiah yang disajikan secara singkat, ringkas, jelas, dan sistematis. Tulisan berkadar ilmiah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya yang dipublikasikan pada mading sekolahnya selama tiga tahun terakhir 

C. Tinjauan Pustaka 

       Salah satu ranah kegiatan penting yang dilakukan guru di universitas adalah kegiatan ilmiah, yakni kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks), baik yang dilakukan melalui aktivitas penelitian maupun publikasi ilmiah. Upaya pengembangan ipteks bukan merupakan kegiatan individual atau kelompok melainkan merupakan kegiatan universal yang melibatkan semua ilmuwan di seluruh dunia. Oleh karena itu, para ilmuwan – terutama yang terlibat dalam disiplin ilmu sejenis (inhouse style) perlu saling bekerja sama dan berkolaborasi untuk mengomunikasikan dan memublikasikan kegiatan ilmiah mereka. 

     Agar kerja sama dan kolaborasi tersebut efektif dan efisien, alat komunikasi yang digunakan perlu disesuaikan dengan hakikat ilmu pengetahuan serta dengan cara kerja para ilmuwan. Alat komunikasi itu adalah ragam bahasa khusus, yang oleh bahasawan mazhab Praha disebut ragam bahasa ilmiah (Davis, 1973: 229). Ciri utama ragam bahasa ilmiah adalah serba nalar/logis, lugas/padat, jelas/eksplisit, impersonal/objektif, dan berupa ragam baku (standar). 

      Johannes (1978: 2-3) mengemukakan ihwal gaya bahasa keilmuan pada dasarnya sama pengertiannya dengan ragam bahasa fungsional baku. Yang dimaksud dengan ragam fungsional baku adalah ragam tulis yang ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut: (1) bahasanya adalah bahasa resmi, bukan bahasa pergaulan; (2) sifatnya formal dan objektif; (3) nadanya tidak emosional; (4) keindahan bahasanya tetap diperhatikan; (5) kemubaziran dihindari; (6) isinya lengkap, bayan, ringkas, meyakinkan, dan tepat. 

      Moeliono (1993: 3) menyatakan ciri-ciri bahasa keilmuan yang menonjol adalah kecendekiaannya. Pencendekiaan bahasa itu dapat diartikan proses penyesuaiannya menjadi bahasa yang mampu membuat pernyataan yang tepat, saksama, dan abstrak. Bentuk kalimatnya mencerminkan ketelitian penalaran yang objektif. Ada hubungan logis antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Hubungan antarkalimat yang logis meliputi relasi sebab akibat, lantaran dan tujuan, hubungan kesejajaran, kemungkinan kementakan (probabilitas), dan gelorat (necessity) yang diekspresikan lewat bangun kalimat yang khusus. 

      Harjasujana (1993: 3) menyatakan, penggunaan bahasa dalam ipteks itu khusus dan khas. Ciri dan karakteristiknya yang utama ialah lugas, lurus, monosemantik, dan ajeg. Bahasa ilmiah itu harus hemat dan cermat karena menghendaki respons yang pasti dari pembacanya. Kaidah-kaidah sintaktis dan bentukan-bentukan bahasa dan ranah penggantinya harus mudah dipahami. Kehematan penggunaan kata, kecermatan dan kejelasan sintaksis yang berpadu dengan penghapusan unsur-unsur yang bersifat pribadi dapat menghasilkan ragam bahasa ilmiah yang umum. Kelugasan, keobjektifan, dan keajegan bahasa tulis ilmiah itulah yang membedakannya dengan ragam bahasa sastra yang subjektif, halus, dan lentur sehingga intrepretasi pembaca yang satu kerap kali sangat berbeda dengan interpretasi dan apresiasi pembaca lainnya. 

       Badudu (1992: 39) menjelaskan bahwa bahasa ilmiah merupakan suatu laras (register) bahasa yang khusus, yang memiliki coraknya sendiri. Bahasa ilmiah merupakan suatu laras dari ragam bahasa resmi baku. Sebagai bahasa dengan laras khusus, bahasa ilmiah itu harus jelas, teratur, tepat makna. Bahasa ilmiah adalah bahasa yang berfungsi untuk menyampaikan informasi dengan cacat sekecil-kecilnya. Artinya, jangan sampai bahasa yang digunakan itu demikian banyak kekurangannya sehingga informasi yang akan disampaikan tidak sampai kepada sasarannya. Agar jelas, bahasa ilmiah harus teratur, lengkap, tersusun baik, teliti dalam pengungkapannya, dan membentuk satu kesatuan ide.

      Unsur kebahasaan dan nonkebahasaan merupakan komponen yang harus diperhatikan untuk menghasilkan tulisan yang jelas, benar, baik, dan bermutu. Unsur-unsur kebahasaan dalam tulisan berkadar ilmiah terdiri atas kosakata dan istilah, pengembangan bahasa, dan mekanik. Pertama, kosakata dan istilah yang digunakan hendaknya memperhatikan pemanfaatan potensi kata canggih, kata dan ungkapan yang dipilih tepat makna, dan penulis sendiri perlu mengetahui pembentukan kata dan istilah. Pemanfaatan potensi kata yang terbatas sebaiknya dihindari, apalagi pemanfaatan potensi kata dan istilah yang asal-asalan. Hal lain yang perlu dihindari penulis adalah memilih kata dan ungkapan yang kurang tepat sesuai dengan konteksnya. Apalagi jika pilihan kata dan ungkapan yang kurang tepat itu sampai merusak makna yang dimaksud oleh penulis. Pengetahuan kosakata dan istilah yang rendah dari penulis dapat mempengaruhi kadar keilmiahan tulisannya.

       Kedua, pengembangan bahasa dalam tulisan berkadar ilmiah berkaitan dengan sintaksis yang digunakan penulis. Aturan sintaksis yang perlu dikuasai penulis terutama yang berhubungan dengan kalimat, klausa, dan frasa baik hubungan satuan-satuan tersebut secara fungsional maupun hubungan secara maknawi. Dalam tulisan berkadar ilmiah, penulis perlu memperhatikan konstruksi kalimat yang digunakan. Konstruksi kalimat dapat saja berbentuk sederhana atau kompleks, tetapi harus tetap efektif. Kesalahan serius dalam konstruksi kalimat hendaknya perlu dihindari. Apalagi jika kesalahan tersebut dapat membingungkan makna atau mengaburkan makna yang dimaksud oleh penulis sehingga tulisan tidak komunikatif. 

       Ketiga, aspek mekanik yang digunakan dalam tulisan berkadar ilmiah berkaitan dengan aturan penulisan yang berupa ejaan dan tanda baca. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, penulis perlu menguasai aturan penulisan, terutama yang berupa ejaan dan tanda baca. Di samping ejaan dan tanda baca, penulis perlu memperhatikan kerapian dan kebersihan tulisannya. Dalam menulis berkadar ilmiah, penulis harus menghindari kesalahan ejaan dan tanda baca, apalagi jika kesalahan tersebut dapat membingungkan atau mengaburkan makna sehingga mengurangi nilai atau bobot dari tulisan tersebut. 

      Di samping menguasai unsur-unsur kebahasaan, penulis juga perlu menguasai unsur-unsur nonkebahasaan. Hal ini dimaksudkan agar tujuan seseorang menulis bukan hanya menghasilkan bahasa melainkan ada sesuatu yang akan diungkapkan dan dinyatakan melalui sarana bahasa tulis. Adapun unsur nonkebahasaan dalam tulisan berkadar ilmiah terdiri atas isi dan organisasi. 

      Pertama, isi tulisan. Penulis harus memperhatikan kualitas dan ruang lingkup isi yang hendak disampaikan. Isi tulisan yang dituangkan hendaknya padat informasi, substantif, pengembangan gagasan tuntas, dan relevan dengan permasalahan yang hendak disampaikan. Dalam menyampaikan isi tulisan, penulis sebaiknya menghindari pemberian informasi yang sangat terbatas, substansi yang disampaikan kurang atau bahkan tidak ada substansi, pengembangan gagasan kurang relevan atau tidak tampak. 

      Kedua, organisasi dalam tulisan berkadar ilmiah berkaitan dengan ekspresi atau gagasan yang akan diungkapkan oleh penulis. Agar gagasan atau ekspresi yang dimaksud penulis tersampaikan, gagasan itu perlu diungkapkan dengan jelas, lancar, padat, tertata dengan baik, urutannya logis dan kohesif. Untuk menghasilkan tulisan berkadar ilmiah yang baik dan sempurna, penulis harus menghindari penyampaian gagasan yang kacau, terpotong-potong, pengembangan yang tidak terorganisasi, dan tidak logis. 

D. Metode Penelitian 

     Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif. Tujuannya untuk mendeskripsikan kadar keilmiahan isi tulisan, organisasi, kosakata dan istilah, pengembangan bahasa, dan aspek mekanik tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya yang dipublikasikan pada mading sekolah.  

     Data tulisan siswa berkadar ilmiah dalam mading diambil dalam kurun waktu selama tiga tahun terakhir (20132016). Dalam kurun waktu itu terdapat 48 artikel yang dipublikasikan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan berulang-ulang dan teknik format isian.       

     Teknik pembacaan berulang-ulang bertujuan untuk mendata tulisan yang berkadar ilmiah. Teknik format isian dimaksudkan untuk mengumpulkan data berupa tulisan berkadar ilmiah yang menjadi sasaran penelitian ini. 

      Analisis data dilakukan terhadap kadar tulisan ilmiah yang meliputi isi tulisan, organisasi, kosakata dan istilah, pengembangan bahasa, dan aspek mekanik. Analisis kadar keilmiahan tulisan didasarkan pada ciri-ciri dan sifat-sifat tulisan yang berkadar ilmiah tersebut. Untuk mengetahui kadar keilmiahan tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya yang dipublikasikan pada mading digunakan model penilaian tulisan dengan menggunakan skala interval untuk tiap tingkatan tertentu pada tiap aspek yang diteliti/dinilai. 

     Dari hasil analisis ini diharapkan akan diperoleh keluaran atau hasil yang jelas dan komprehensif tentang kadar keilmiahan isi tulisan, organisasi, kosakata dan istilah, pengembangan bahasa, dan aspek mekanik dalam tulisan para siswa SMAN 3 Tasikmalaya yang dipublikasikan pada mading sekolah, yang selanjutnya dapat dijadikan pedoman dalam menulis dan memublikasikan artikel/tulisan pada mading ilmiah.

E. Jadwal Pelaksanaan 

Pelaksanaan penelitian ini dijadwalkan sebagai berikut.  

F. Rencana Anggaran

    Secara rinci, kebutuhan anggaran penelitian ini direncanakan sebagai berikut.


 G. Daftar Pustaka 

 


Contoh tersebut adalah contoh proposal. Berdasarkan contoh tersebut dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan proposal adalah teks yang berupa permintaan kepada seseorang atau suatu lembaga untuk melakukan suatu kegiatan (penelitian).

 

Tugas
1.  Cermatilah kembali contoh proposal di atas Kemudian, jelaskanlah informasi-informasi yang kamu anggap penting pada setiap bagiannya itu.


XI IPS2

https://forms.gle/rkWMP6rbCYxM8N7CA

KISI-KISI SOAL BAHASA INDONESIA kelas XI

  RINGKASAN KOMPETENSI YANG DIUJI Majas dalam puisi Unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi Teks drama (tokoh, konflik, latar, dialog) Kar...