Materi
Menganalisis Sistematika dan Kebahasaan Karya Ilmiah
Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu:
1. menganalisis sistematika karya ilmiah;
2. menganalisis kebahasaan karya ilmiah.
Kegiatan 1
Menganalisis Sistematika Karya Ilmiah
Isi karya ilmiah memang dapat berkaitan dengan banyak hal, sepanjang
hal-hal tersebut bukan sesuatu yang imajinatif. Masalah-masalah
dalam karya ilmiah mencakup berbagai hal yang bersifat empiris
(pengalaman nyata), mulai dari masalah keagamaan, bahasa, budaya,
sosial, ekonomi, politik, alam sekitar, dan sebagainya.
Pada dasarnya, makalah terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian tubuh
dan pelengkap. Bagian tubuh terdiri atas pendahuluan,
isi/pembahasan, dan penutup. Bagian pelengkap terdiri atas judul, kata
pengantar, dafar isi, dan dafar pustaka.
Tugas
1. Pilihlah dua buah karya ilmiah dari buku atau internet bisa berupa makalah atau jurnal!
2. Analisislah bagian-bagian karya ilmiah dari kedua jurnal tersebut!
3. Bandingkanlah sistematika karya ilmiah yang disajikan dalam dua jurnal tersebut!
4. Buatlah laporan dengan mengikuti contoh tabel berikut ini!
No Judul Karya Ilmiah Sistematika Analisis
1. ................... ................ ...............
2. .................. ................ ...............
3. .................. ................. ................
4
5
dst
Tulis di buku tulis difoto ayau scan kirim
https://forms.gle/nhvFozkcUiZ4tbJ17
DATA SISWA YANG RESPON
Selasa, 24 Maret 2020
Selasa, 24 Maret 2020 kelas XI Bahasa
Materi
Menganalisis Sistematika dan Kebahasaan Karya Ilmiah
Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu:
1. menganalisis sistematika karya ilmiah;
2. menganalisis kebahasaan karya ilmiah.
Kegiatan 1
Menganalisis Sistematika Karya Ilmiah
Isi karya ilmiah memang dapat berkaitan dengan banyak hal, sepanjang hal-hal tersebut bukan sesuatu yang imajinatif. Masalah-masalah dalam karya ilmiah mencakup berbagai hal yang bersifat empiris (pengalaman nyata), mulai dari masalah keagamaan, bahasa, budaya, sosial, ekonomi, politik, alam sekitar, dan sebagainya.
Pada dasarnya, makalah terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian tubuh dan pelengkap. Bagian tubuh terdiri atas pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup. Bagian pelengkap terdiri atas judul, kata pengantar, dafar isi, dan dafar pustaka.
Tugas
1. Pilihlah dua buah karya ilmiah dari buku atau internet bisa berupa makalah atau jurnal!
2. Analisislah bagian-bagian karya ilmiah dari kedua jurnal tersebut!
3. Bandingkanlah sistematika karya ilmiah yang disajikan dalam dua jurnal tersebut!
4. Buatlah laporan dengan mengikuti contoh tabel berikut ini!
No Judul Karya Ilmiah Sistematika Analisis
1. ................... ................ ...............
2. .................. ................ ...............
3. .................. ................. ................
4
5
dst
Tulis di buku tulis difoto ayau scan kirim
https://forms.gle/SU7Y4JoWhVcjqAUG7
Menganalisis Sistematika dan Kebahasaan Karya Ilmiah
Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu:
1. menganalisis sistematika karya ilmiah;
2. menganalisis kebahasaan karya ilmiah.
Kegiatan 1
Menganalisis Sistematika Karya Ilmiah
Isi karya ilmiah memang dapat berkaitan dengan banyak hal, sepanjang hal-hal tersebut bukan sesuatu yang imajinatif. Masalah-masalah dalam karya ilmiah mencakup berbagai hal yang bersifat empiris (pengalaman nyata), mulai dari masalah keagamaan, bahasa, budaya, sosial, ekonomi, politik, alam sekitar, dan sebagainya.
Pada dasarnya, makalah terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian tubuh dan pelengkap. Bagian tubuh terdiri atas pendahuluan, isi/pembahasan, dan penutup. Bagian pelengkap terdiri atas judul, kata pengantar, dafar isi, dan dafar pustaka.
Tugas
1. Pilihlah dua buah karya ilmiah dari buku atau internet bisa berupa makalah atau jurnal!
2. Analisislah bagian-bagian karya ilmiah dari kedua jurnal tersebut!
3. Bandingkanlah sistematika karya ilmiah yang disajikan dalam dua jurnal tersebut!
4. Buatlah laporan dengan mengikuti contoh tabel berikut ini!
No Judul Karya Ilmiah Sistematika Analisis
1. ................... ................ ...............
2. .................. ................ ...............
3. .................. ................. ................
4
5
dst
Tulis di buku tulis difoto ayau scan kirim
https://forms.gle/SU7Y4JoWhVcjqAUG7
Sabtu, 21 Maret 2020
Sabtu, 21 Maret 20120 TUGAS KELAS XI IPS 2, XI IPA 4 dan XI IPS 1
Kegiatan 2
Menemukan Informasi yang Dapat Dikembangkan Menjadi Karya
Ilmiah
Perhatikanlah cuplikan berikut!
Tugas
Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya sastra klasik merupakan karya sastra kultur dan etnik (daerah). Bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara sangatlah beruntung karena memiliki khazanah sastra klasik yang amat beragam dan kaya. Wilayah-wilayah kultur dan etnik itu masing-masing memiliki sastra kasik, yang semuanya memiliki sifat-sifat yang khas. Karya sastra ini timbul dan berkembang pada zaman yang belum mengenal istilah demokrasi, HAM, industrialisasi, globalisasi, dan anasir-anasir modern lainnya. Sastra klasik sebagian besar berakar dari sikap hidup tradisional yang feodal. Hal yang wajar apabila kemudian muncul pertanyaan, nilai apa lagi yang masih dianggap relevan dan bermanfaat dari penelitian sastra klasik dalam konteks kehidupan yang serba modern seperti sekarang.
Dalam karya-karya klasik memang terkandung pemikiran-pemikiran yang dekaden, penuh tahayul, dan menidurkan. Hal itu sulit dimungkiri. Cerita-cerita masa lampau mengandung banyak unsur yang tidak relevan lagi dengan napas modernisme maupun semangat demokratisasi. Karya
dan kehidupan klasik (tradisional) sulit dipisahkan dari unsur feodalis dan mistisme. Namun demikian, hal lain yang tidak boleh terlupakan pula bahwa sastra klasik adalah catatan hidup dan kehidupan manusia masa lampau; sebagai bagian dari karya-karya kemanusiaan; itu artinya, karyakarya klasik pun tidak mungkin lepas dari nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Ujar Syariati (1994) bahwa masa lampau dan masa kini merupakan sebuah jurang. Antara keduanya memerlukan sebuah jembatan. Pertemuan antara keduanya sangatlah penting untuk membangun satu bentuk konvergensi kultural yang berkepribadian, tanpa harus kehilangan identitas
dan esensi kebangsaannya. Penggalian terhadap sastra klasik diharapkan dapat memperoleh nilai pengalaman, perasaan, dan pemikiran esensial kemasyarakatan. Pemerolehan akan nilai-nilai tersebut, menurut Syariati (1994) sangat bermanfaat untuk menambah kearifan dan kebijakan hidup,
baik di masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Penggalian-penggalian terhadap hal-hal di atas telah banyak dilakukan para flolog maupun ahli-ahli dari disiplin ilmu lainnya (antropolog, sosiolog, dan sebagainya). Hasilnya mereka mengakui bahwa karyakarya sastra klasik ternyata sarat nilai. Dalam karya-karya klasik banyak terkandung pesan-pesan moral, didaktis, dan adat istiadat (Djamaris, 1990;Fang, 1991; Danawidjaja, 1994). Temuan-temuan tersebut tentunya bukan sesuatu yang fnal. Yang selama ini dilakukan umumnya masih terpisah-pisah, hanya berfokus pada karya sastra itu sendiri. Jenis sastra
Melayu Islam merupakan karya klasik yang belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Padahal karya-karya ini lebih dominan dalam khazanah perkembangan sastra Nusantara. Penulis menemukan kajiankajian terhadap masalah ini baru sampai pada sajian-sajian makalah.
Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa kajian yang lebih mendalam terhadap masalah ini amatlah penting untuk dilakukan
Fokus dan Kerangka Teori
Di atas telah dikemukakan bahwa sastra klasik merupakan salah satu sumber kultural yang sangat penting. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Di samping itu, memang diakui bahwa dalam karya-karya klasik dijumpai pula unsur-unsur kehidupan tradisional yang dekaden, mistisme, yang tidak relevan dengan suasana modern dan semangat demokratisasi. Sastra klasik adalah fenomena multidimensional. Terliput di dalamnya persoalan-persoalan struktur, sejarah, dan kultur. Oleh sebab itu, untuk sampai pada pengertian yang sesungguhnya, penulis membatasinya pada persoalan kultur, dalam spesifkasi pandangan (nilainilai) moral.Yang termasuk ke dalam karya klasik itu sendiri jumlahnya sangat banyak dan beragam. Dalam kaitannya dengan struktur kesejarahannya, dikenal adanya sastra klasik Hindu, sastra klasik Buddha, sastra klasik zaman peralihan, sastra klasik Islam. Karya sastra klasik yang dimaksud
dalam penelitian ini dibatasi hanya pada sastra klasik dengan struktur Melayu dalam latar belakang keislaman. Pembatasan ini berdasarkan alasan bahwa sastra klasik masyarakat Melayu Islam merupakan khazanah sastra paling dominan di Nusantara (Djamaris, 1990: Fang, 1991).
Penelitian di atas memerlukan dukungan dari teori-teori sastra, teori moral, dan antropologi. Teori sastra diperlukan untuk mengkaji ciri-ciri sastra klasik dari masyarakat Melayu Islam, khususnya dikaitkan dengan konteks moral yang ada di dalamnya. Teori moral digunakan untuk
mengidentifkasi konsep-konsep moral yang (mungkin) ditemukan dalam karya sastra melayu Islam itu, sedangkan teori antropologi diperlukan guna menganalisis struktur sosial budaya masyarakat Melayu Islam, dalam kaitannya dengan sistem moral yang tertuang dalam karya sastra yang
diciptakan.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan struktur sastra Melayu Islam, yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema.
2. Mendeskripsikan kategori-kategori moral yang tertuang dalam karya sastra Melayu Islam.
3. Merumuskan karakteristik umum dari setiap kategori moral yang terdapat dalam masyarakat
Melayu Islam.
Pengertian Sastra
Penjelasan tentang “Apa itu sastra?”, dapat dikemukakan berdasarkan berbagai sudut pandang. Dalam kajian ini, penjelasan akan dikemukakan seperlunya, sesuai dengan tujuan untuk memahami kedudukan sastra dalam kaitannya dengan ajaran keislaman. Dalam memahami hakikat sastra, paling tidak ada dua pandangan yang selama ini berkembang. Pertama, pandangan Platonis, yang beranggapan bahwa karena sifatnya tiruan, maka sastra itu kurang bernilai dibandingkan dengan kenyataannya itu sendiri. Lebih dari itu, menurut Plato bahwa para seniman hanyalah menonjolkan sifat-sifat rendahan manusia, yang emosional, tidak pada segi rasionalitas, yang dianggapnya sebagai unsur kemanusiaan yang paling mulia dan luhur.
Sehubungan dengan keberatan-keberatan dari Plato, Aristoteles menanggapinya sebagai berikut. Bahwa sastrawan tidak seperti apa yang dikatakan Plato, yang begitu saja menirukan atau menyajikan kembali peristiwa atau keadaan tertentu yang kebetulan dicatat atau diselidikinya.
Namun, ia mengolahnya sedemikian rupa sehingga ia menampilkan unsur-unsurnya yang umum, di samping yang khas. Apa yang merupakan ciri khas dalam sastra, adalah sifat rekaannya yang sangat erat dengan bahasa. Dalam karya sastra, setiap kata, setiap tanda, betapa pun tampak remehnya tanda itu, misalnya titik dan koma, tetapi ia memiliki fungsi dan makna tersendiri; tanda-tanda itu tidak ada yang tidak terpakai, semuanya berfungsi sebagai penyandang bermakna.
.....
(Sumber: “Nilai-nilai Moral dalam Karya Sastra Melayu Klasik Islam”, Kosasih)
Teks seperti itulah yang lazim disebut dengan karya ilmah. Teks tersebut disusun dengan metode ilmiah, yakni metode yang berdasarkan cara berpikir yang sistematis dan logis. Karya ilmiah menyajikan masalahmasalah yang objektif dan faktual.
1. Sistematis, susunan teks itu teratur dengan pola yang baku. Dimulai dengan pendahuluan, diikuti
dengan pembahasan, dan diakhiri dengan simpulan.
2. Logis, isinya dapat dipahami dan dibenarkan oleh akal sehat; antara lain, didasari oleh hubungan
sebab akibat.
3. Objektif (impersonal), pernyataan-pernyataannya didasarkan pandangan umum; tidak didasari
pandangan pribadi penulisnya semata.
4. Faktual, kebenaran di dalamnya didasarkan kenyataan yang sesungguhnya; tidak imajinatif.
Karya ilmiah mengutamakan aspek rasionalitas dalam pembahasannya. Objektivitas dan kelengkapan data merupakan hal lain yang sangat penting. Guna membuktikan bahwa pembahasan itu merupakan sesuatu yang rasional, penulis perlu data yang lengkap dengan tingkat kebenaran yang tidak terbantahkan. Untuk memperkuat pernyataan “sastra klasik itu
sarat dengan nilai-nilai moral”, penulis perlu membuktikannya dengan data langsung dari karyanya itu sendiri dengan didukung pula oleh pandanganpandangan teori ataupun ahli lain.
Karya ilmiah tidak selalu identik dengan karya hasil penelitian. Karya hasil penelitian merupakan salah satu jenis dari karya ilmiah. Apabila merujuk pada pengertian dan ciri-ciri di atas, akan banyak sekali ragam tulisan yang berkategori karya ilmiah. Contoh karya ilmiah dapat berupa artikel, makalah, laporan, skripsi, dan tulisan-tulisan sejenis lainnya
TUGAS KELAS XI
Sabtu, 21 Maret 20120
Jam 1 sd 2 XI IPS 2
https://forms.gle/swB9sKQBDiWHcwNaA
Jam 5 dan 7 XI IPA 4
https://forms.gle/2BV5aeiKLWnhzkjM9
Jam 8 sd 9 XI IPS 1
https://forms.gle/ybqixFGfcEqU4Ub4A
Setelah kamu membaca penggalan karya ilmiah di atas, ikutilah instruksi di bawah ini!
1. Lakukanlah observasi di lingkungan rumah kalian masing-masing tentang
informasi yang dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah!
2. Perhatikan penulisan struktur karya ilmiah yang benar
(membuat kerangka karya ilmiah, ingat kerangka dulu paling tidak ada garis besar yang nanti pada materi berikutnya bisa dijadikan karya ilmiah yang asli
tugasnya difoto atau di scan dikirim di sini
XI IPS 2
https://forms.gle/swB9sKQBDiWHcwNaA
XI IPA 4
https://forms.gle/2BV5aeiKLWnhzkjM9
XI IPS 1
https://forms.gle/ybqixFGfcEqU4Ub4A
dan setelah masuk buku tulisnya dikumpulkan
Menemukan Informasi yang Dapat Dikembangkan Menjadi Karya
Ilmiah
Perhatikanlah cuplikan berikut!
Tugas
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya sastra klasik merupakan karya sastra kultur dan etnik (daerah). Bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara sangatlah beruntung karena memiliki khazanah sastra klasik yang amat beragam dan kaya. Wilayah-wilayah kultur dan etnik itu masing-masing memiliki sastra kasik, yang semuanya memiliki sifat-sifat yang khas. Karya sastra ini timbul dan berkembang pada zaman yang belum mengenal istilah demokrasi, HAM, industrialisasi, globalisasi, dan anasir-anasir modern lainnya. Sastra klasik sebagian besar berakar dari sikap hidup tradisional yang feodal. Hal yang wajar apabila kemudian muncul pertanyaan, nilai apa lagi yang masih dianggap relevan dan bermanfaat dari penelitian sastra klasik dalam konteks kehidupan yang serba modern seperti sekarang.
Dalam karya-karya klasik memang terkandung pemikiran-pemikiran yang dekaden, penuh tahayul, dan menidurkan. Hal itu sulit dimungkiri. Cerita-cerita masa lampau mengandung banyak unsur yang tidak relevan lagi dengan napas modernisme maupun semangat demokratisasi. Karya
dan kehidupan klasik (tradisional) sulit dipisahkan dari unsur feodalis dan mistisme. Namun demikian, hal lain yang tidak boleh terlupakan pula bahwa sastra klasik adalah catatan hidup dan kehidupan manusia masa lampau; sebagai bagian dari karya-karya kemanusiaan; itu artinya, karyakarya klasik pun tidak mungkin lepas dari nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Ujar Syariati (1994) bahwa masa lampau dan masa kini merupakan sebuah jurang. Antara keduanya memerlukan sebuah jembatan. Pertemuan antara keduanya sangatlah penting untuk membangun satu bentuk konvergensi kultural yang berkepribadian, tanpa harus kehilangan identitas
dan esensi kebangsaannya. Penggalian terhadap sastra klasik diharapkan dapat memperoleh nilai pengalaman, perasaan, dan pemikiran esensial kemasyarakatan. Pemerolehan akan nilai-nilai tersebut, menurut Syariati (1994) sangat bermanfaat untuk menambah kearifan dan kebijakan hidup,
baik di masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Penggalian-penggalian terhadap hal-hal di atas telah banyak dilakukan para flolog maupun ahli-ahli dari disiplin ilmu lainnya (antropolog, sosiolog, dan sebagainya). Hasilnya mereka mengakui bahwa karyakarya sastra klasik ternyata sarat nilai. Dalam karya-karya klasik banyak terkandung pesan-pesan moral, didaktis, dan adat istiadat (Djamaris, 1990;Fang, 1991; Danawidjaja, 1994). Temuan-temuan tersebut tentunya bukan sesuatu yang fnal. Yang selama ini dilakukan umumnya masih terpisah-pisah, hanya berfokus pada karya sastra itu sendiri. Jenis sastra
Melayu Islam merupakan karya klasik yang belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Padahal karya-karya ini lebih dominan dalam khazanah perkembangan sastra Nusantara. Penulis menemukan kajiankajian terhadap masalah ini baru sampai pada sajian-sajian makalah.
Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa kajian yang lebih mendalam terhadap masalah ini amatlah penting untuk dilakukan
Fokus dan Kerangka Teori
Di atas telah dikemukakan bahwa sastra klasik merupakan salah satu sumber kultural yang sangat penting. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Di samping itu, memang diakui bahwa dalam karya-karya klasik dijumpai pula unsur-unsur kehidupan tradisional yang dekaden, mistisme, yang tidak relevan dengan suasana modern dan semangat demokratisasi. Sastra klasik adalah fenomena multidimensional. Terliput di dalamnya persoalan-persoalan struktur, sejarah, dan kultur. Oleh sebab itu, untuk sampai pada pengertian yang sesungguhnya, penulis membatasinya pada persoalan kultur, dalam spesifkasi pandangan (nilainilai) moral.Yang termasuk ke dalam karya klasik itu sendiri jumlahnya sangat banyak dan beragam. Dalam kaitannya dengan struktur kesejarahannya, dikenal adanya sastra klasik Hindu, sastra klasik Buddha, sastra klasik zaman peralihan, sastra klasik Islam. Karya sastra klasik yang dimaksud
dalam penelitian ini dibatasi hanya pada sastra klasik dengan struktur Melayu dalam latar belakang keislaman. Pembatasan ini berdasarkan alasan bahwa sastra klasik masyarakat Melayu Islam merupakan khazanah sastra paling dominan di Nusantara (Djamaris, 1990: Fang, 1991).
Penelitian di atas memerlukan dukungan dari teori-teori sastra, teori moral, dan antropologi. Teori sastra diperlukan untuk mengkaji ciri-ciri sastra klasik dari masyarakat Melayu Islam, khususnya dikaitkan dengan konteks moral yang ada di dalamnya. Teori moral digunakan untuk
mengidentifkasi konsep-konsep moral yang (mungkin) ditemukan dalam karya sastra melayu Islam itu, sedangkan teori antropologi diperlukan guna menganalisis struktur sosial budaya masyarakat Melayu Islam, dalam kaitannya dengan sistem moral yang tertuang dalam karya sastra yang
diciptakan.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan struktur sastra Melayu Islam, yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema.
2. Mendeskripsikan kategori-kategori moral yang tertuang dalam karya sastra Melayu Islam.
3. Merumuskan karakteristik umum dari setiap kategori moral yang terdapat dalam masyarakat
Melayu Islam.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Sastra
Penjelasan tentang “Apa itu sastra?”, dapat dikemukakan berdasarkan berbagai sudut pandang. Dalam kajian ini, penjelasan akan dikemukakan seperlunya, sesuai dengan tujuan untuk memahami kedudukan sastra dalam kaitannya dengan ajaran keislaman. Dalam memahami hakikat sastra, paling tidak ada dua pandangan yang selama ini berkembang. Pertama, pandangan Platonis, yang beranggapan bahwa karena sifatnya tiruan, maka sastra itu kurang bernilai dibandingkan dengan kenyataannya itu sendiri. Lebih dari itu, menurut Plato bahwa para seniman hanyalah menonjolkan sifat-sifat rendahan manusia, yang emosional, tidak pada segi rasionalitas, yang dianggapnya sebagai unsur kemanusiaan yang paling mulia dan luhur.
Sehubungan dengan keberatan-keberatan dari Plato, Aristoteles menanggapinya sebagai berikut. Bahwa sastrawan tidak seperti apa yang dikatakan Plato, yang begitu saja menirukan atau menyajikan kembali peristiwa atau keadaan tertentu yang kebetulan dicatat atau diselidikinya.
Namun, ia mengolahnya sedemikian rupa sehingga ia menampilkan unsur-unsurnya yang umum, di samping yang khas. Apa yang merupakan ciri khas dalam sastra, adalah sifat rekaannya yang sangat erat dengan bahasa. Dalam karya sastra, setiap kata, setiap tanda, betapa pun tampak remehnya tanda itu, misalnya titik dan koma, tetapi ia memiliki fungsi dan makna tersendiri; tanda-tanda itu tidak ada yang tidak terpakai, semuanya berfungsi sebagai penyandang bermakna.
.....
(Sumber: “Nilai-nilai Moral dalam Karya Sastra Melayu Klasik Islam”, Kosasih)
Teks seperti itulah yang lazim disebut dengan karya ilmah. Teks tersebut disusun dengan metode ilmiah, yakni metode yang berdasarkan cara berpikir yang sistematis dan logis. Karya ilmiah menyajikan masalahmasalah yang objektif dan faktual.
1. Sistematis, susunan teks itu teratur dengan pola yang baku. Dimulai dengan pendahuluan, diikuti
dengan pembahasan, dan diakhiri dengan simpulan.
2. Logis, isinya dapat dipahami dan dibenarkan oleh akal sehat; antara lain, didasari oleh hubungan
sebab akibat.
3. Objektif (impersonal), pernyataan-pernyataannya didasarkan pandangan umum; tidak didasari
pandangan pribadi penulisnya semata.
4. Faktual, kebenaran di dalamnya didasarkan kenyataan yang sesungguhnya; tidak imajinatif.
Karya ilmiah mengutamakan aspek rasionalitas dalam pembahasannya. Objektivitas dan kelengkapan data merupakan hal lain yang sangat penting. Guna membuktikan bahwa pembahasan itu merupakan sesuatu yang rasional, penulis perlu data yang lengkap dengan tingkat kebenaran yang tidak terbantahkan. Untuk memperkuat pernyataan “sastra klasik itu
sarat dengan nilai-nilai moral”, penulis perlu membuktikannya dengan data langsung dari karyanya itu sendiri dengan didukung pula oleh pandanganpandangan teori ataupun ahli lain.
Karya ilmiah tidak selalu identik dengan karya hasil penelitian. Karya hasil penelitian merupakan salah satu jenis dari karya ilmiah. Apabila merujuk pada pengertian dan ciri-ciri di atas, akan banyak sekali ragam tulisan yang berkategori karya ilmiah. Contoh karya ilmiah dapat berupa artikel, makalah, laporan, skripsi, dan tulisan-tulisan sejenis lainnya
TUGAS KELAS XI
Sabtu, 21 Maret 20120
Jam 1 sd 2 XI IPS 2
https://forms.gle/swB9sKQBDiWHcwNaA
Jam 5 dan 7 XI IPA 4
https://forms.gle/2BV5aeiKLWnhzkjM9
Jam 8 sd 9 XI IPS 1
https://forms.gle/ybqixFGfcEqU4Ub4A
Setelah kamu membaca penggalan karya ilmiah di atas, ikutilah instruksi di bawah ini!
1. Lakukanlah observasi di lingkungan rumah kalian masing-masing tentang
informasi yang dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah!
2. Perhatikan penulisan struktur karya ilmiah yang benar
(membuat kerangka karya ilmiah, ingat kerangka dulu paling tidak ada garis besar yang nanti pada materi berikutnya bisa dijadikan karya ilmiah yang asli
tugasnya difoto atau di scan dikirim di sini
XI IPS 2
https://forms.gle/swB9sKQBDiWHcwNaA
XI IPA 4
https://forms.gle/2BV5aeiKLWnhzkjM9
XI IPS 1
https://forms.gle/ybqixFGfcEqU4Ub4A
dan setelah masuk buku tulisnya dikumpulkan
Langganan:
Postingan (Atom)
KISI-KISI SOAL BAHASA INDONESIA kelas XI
RINGKASAN KOMPETENSI YANG DIUJI Majas dalam puisi Unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi Teks drama (tokoh, konflik, latar, dialog) Kar...
-
Suka membaca resensi buku atau film sebelum menikmati suatu bacaan atau tayangan? Resensi dianggap penting sebelum kita memutuskan apa yang...
-
B. Membandingkan Karakterisasi dan Plot pada Hikayat dan Cerpen Membaca untuk menilai dan mengkritisi karakterisasi dan plot pada hikayat d...
-
Kisi-Kisi ASAS Bahasa Indonesia Kelas 11: 1. Memahami informasi dalam sebuah poster 2. Memahami isi, tujuan, dan pesan yang terkandung dal...